Minggu pagi 23 Oktober pukul 07.00 seluruh Kota
Jakarta diguyur hujan deras membuat Jakarta yang biasa terasa panas namun kali ini
terasa sejuk. Sekitar 30 menit hujan mulai reda. Meskipun cuaca yang sedikit
mendung tidak menyurutkan semangat masyarakat ibu kota untuk melakukan
rutinitas olahraga.
Setiap Minggu pagi memang merupakan car free day yaitu hari dimana bebas kendaraan.
Saat car free day
bisa dilihat sepanjang Jalan
Jenderal Sudirman dan Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, banyak masyarakat dari Jakarta maupun luar Jakarta yang melakukan
olahraga. Mulai dari jogging, senam
bersama, bersepeda santai dan bahkan lari santai bersama dengan hewan kesayangan..
Beragam aktivtas masyarakat mulia terlihat jelas di
sana seperti meluangkan waktu berkumpul dengan teman komunitas, bahkan masyarakat yang memanfaatkan momen
untuk berfoto-foto
bersama teman dengan berlatar belakang ikon Jakarta seperti Bundaran HI dan tak
jarang pula ada yang berfoto dengan kesenian asli Betawi yaitu ondel-ondel. Tak
hanya ondel-ondel, badut serta robot-robot berukuran besar juga menjadi incaran
mereka.
Suasana semakin ramai dengan adanya para pedagang yang
menjual berbagai macam barang disepanjang jalan trotoar dan disepanjang
Bundaran HI. Mulai dari penjual makanan dan minuman, aksesoris handphone,
penjual baju serta perlengkapan olahraga, hingga pedagang sandal dan sepatu.
Dari sekian banyak pedagang, ada satu pedagang yang
mampu menarik perhatian saya dan juga teman saya. Dengan cirri khas keunikannya
mengulik rasa penasaran saya beserta teman saya mengikuti setiap langkah penjual
tersebut. Tanpa ragu-ragu kami pun memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang
pria tua yang masih terlihat sehat
dan bugar. Pria tua itu bernama Sukiman penjual mainan
tradisional asal Jawa.
Sukiman dengan gayanya yang sederhana mengenakan kaos hitam
polos lengan pendek, celana panjang batik coklat, jam antik yang melingkar di
tangan kirinya, serta mengenakan kupluk (sejenis peci namun lebih secil).
Sebuah tas berasal dari karung goni yang ia kenakan
sambil mendorong sebuah dua batang besi yang saling dihubungkan dengan mainan tadisional
yang ia buat. Gerobak besi dengan dua roda kecil itulah ia pajangkan dagangannya berupa
mainan berbentuk lingkaran yang dirangkai
hingga panjang menyerupai rantai. Mainan yang ia buat dari bahan plastik
sehingga mudah untuk dibentuk menjadi lingkaran.
Panjang mainan itu kurang lebih satu meter yang susun
dengan dua warna yang berbeda (hujau tosca dan merah, serta kuning dan merah). Bahkan satu rangkaian ada yang menggunakan
tiga warna yang berbeda (hijau tosca,
kuning, dan merah), sehingga terkesan menarik. Baginya membuat mainan ini
sangatlah mudah karena sejak masih sekolah ia suah terbiasa. Wajar jika mainan
yang ia buat dengan tanganya sendiri tidak membutuhkan waktu yang lama.
“Yang lama itu cari bahannya. Kalian kalau nyari dipasar Tanah Abang pun tidak ada” ujarnya dengan jelas.
“Mainan ini unik dan antik, gak
ada yang jualan kayak gini di sini,”
lanjutnya dengan menunjukan satu per satu hasil karya mainannya.
Dalam gerobaknya mininya, dengan tulisan “Jual karya
seni, unik san antik, akarta langka, ase soris” juga tergantung 11 mainan unik
yang mempunyai panjang yang berbeda-beda serta ukuran yang berbeda juga.
Terdapat satu rangkaian mainan ini dengan ukuran yang besar, ada juga yang
berukuran kecil namun rangkaiannya panjang, dan ada juga yang rangkaiannya
panjang namun bentuknya kecil.
“Kalau yang besar ini
harganya 30 ribu, yang panjang 25 ribu, yang kecil ini panjang juga saya jual
20 ribu. Nah kalau yang ketupat kecil ini saya jual 20 ribu empat buah,”
jelasnya menuturkan harga setiap mainannya.
Tak hanya mainan yang ia jual. Terdapat foto hitam
putih Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno beserta keluarganya.
Poster Ir. Soekarno ini dia jual dengan harga 50 ribu
per satu lembar foto. Poster yang dipajang dengan berukuran
cukup besar itu mampu
menarik perhatian setiap orang
yang lewat. Tak segan-segan ada orang yang mengambil foto Sukiman saat
berjualan.
Sukiman mengaku dirinya sangat mengagumi sosok Ir.
Soekarno sejak dahulu. Ia juga mengaku mempunyai banyak koleksi foto-foto Ir.
Soekarno dirumahnya.
“Tanpa
Soekarno, Indonesia tidak akan merdeka!” ujarnya dengan semangat.
“Soekarno dijajah oleh generasi
penerusnya dan dibunuh oleh Soeharto dengan caranya mereka! Berapa besar jasa
Soekarno selama ini!” ucapnya degan
penuh semangat yang menunjukan betapa kagumnya ia pada sosok Soekarno.
Sukiman yang
kini berusia 83 tahun ini tak pernah kehilangan semangatnya. Walaupun di usia
yang sudah tua, ia masih sehat dan dengan terus melangkahkan kakinya menjual
dagangannya. Setiap Minggu pagi setelah solah subuh, Sukiman mulai melangkahkan
kakinya menuju Jalan Sudirman. Sukiman yang sudah tinggal di Mampang, Jakarta
Selatan sejak tahun 1958 hingga sekarang.
Sukiman yang
mempunyai enam orang putri, sembilan cucu dan satu cicit ini merupakan asli
orang Solo. Kini ia hnya inggal berdua dengan sang istri karena semua putrinya
sudah berumah tangga dan hidup dengan keluarganya masing-masing. Walaupun hanya
tinggal bersama dengan istri, Sukiman tak pernah merasa kesepian karena selalu
ada anak atau cucunya yang main kerumahnya.
Jika Sukiman
mempunyai diwaktu luang dan tidak ada anak atau cucu yang main kerumahnya, ia
sempatkan untuk membuat mainan uniknya yang akan ia jual nantinya. Dari keahliannya membuat mainan unik dan tradisional
ini, Sukiman mampu mendapatkan penghasilan lumayan.
“Sehari kadang
bisa dapat 300
sampai 400 ribu rupiah. Kalau laku semua biasanya bsa lebih,” ujarnya dengan
gayanya nyang santai.
Walaupun menjual
mainan bukanlah pekerjaan utama namun
dengan penghasilan yang dia dapatkan mampu menghidupi ia beserta istri, serta
mampu menyenangkan cucu serata cicitnya degan membelikan mereka mainan.
Minggu pagi ini
adalah kali kedua Sukiman menjual maianan tradisionalnya yang unik setelah ia
satu bulan tidak berjualan karena sakit. Diusia yang sudah tua, Sukiman memang
sudah diwanti-wanti oleh istri beserta anaknya untuk tidak perlu bekerja. Namun
karena semangatnya yang tinggi ia tetap bersikeras bekerja dengan menjual
mainan tradisional yang unik ini.
“Sekalian
olahraga jalan santai, bisa dapet duit ya kan. Hahahaha…” katanya sambil
tertawa.
Setelah cukup
lama berbincang-bincang denganya, akhirnya kami memutuskan untuk mengakhirinya.
Sukiman kemudian melanjutkan perjalanannya menjual mainan ke sepanjang jalur car free day. Dari kejauhan tampak terlihat Sukiman menjadi pusat
perhatian beberapa orang yang ingin membeli mainannya. Masih
banyak masyarakat yang menghargai dan tertarik dengan mainan tradisional asal Jawa yang ia buat.
Tak hanya membeli maianannya, juga banyak masyarakat
yang meminta foto bersamanya. Terlihat juga ada beberapa sekelompok komunitas
yang berfotoria bersama Sukiman. Semangatnya memang perlu menjadi contoh. Hari
semakin siang, terlihat Sukiman berjalan pulang dengan menaiki
bus metro mini sambil mengangkat gerobaknya masuk ke dalam bus.
(Latihan penulisan Jurnalistik dan Sastra)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar