Senin, 02 Januari 2017

Serba Tradisional Memikat Perhatian

Minggu pagi 23 Oktober pukul 07.00 seluruh Kota Jakarta diguyur hujan deras membuat Jakarta yang biasa terasa panas namun kali ini terasa sejuk. Sekitar 30 menit hujan mulai reda. Meskipun cuaca yang sedikit mendung tidak menyurutkan semangat masyarakat ibu kota untuk melakukan rutinitas olahraga. 
Setiap Minggu pagi memang merupakan car free day yaitu hari dimana bebas kendaraan. Saat car free day bisa dilihat sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, banyak masyarakat dari Jakarta maupun luar Jakarta yang melakukan olahraga. Mulai dari jogging, senam bersama, bersepeda santai dan bahkan lari santai bersama dengan hewan kesayangan..
Beragam aktivtas masyarakat mulia terlihat jelas di sana seperti meluangkan waktu berkumpul dengan teman komunitas,  bahkan masyarakat yang memanfaatkan momen untuk berfoto-foto bersama teman dengan berlatar belakang ikon Jakarta seperti Bundaran HI dan tak jarang pula ada yang berfoto dengan kesenian asli Betawi yaitu ondel-ondel. Tak hanya ondel-ondel, badut serta robot-robot berukuran besar juga menjadi incaran mereka.
Suasana semakin ramai dengan adanya para pedagang yang menjual berbagai macam barang disepanjang jalan trotoar dan disepanjang Bundaran HI. Mulai dari penjual makanan dan minuman, aksesoris handphone, penjual baju serta perlengkapan olahraga, hingga pedagang sandal dan sepatu.
Dari sekian banyak pedagang, ada satu pedagang yang mampu menarik perhatian saya dan juga teman saya. Dengan cirri khas keunikannya mengulik rasa penasaran saya beserta teman saya mengikuti setiap langkah penjual tersebut. Tanpa ragu-ragu kami pun memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang pria tua yang masih terlihat sehat dan bugar. Pria tua itu bernama Sukiman penjual mainan tradisional asal Jawa.
Sukiman dengan gayanya yang sederhana mengenakan kaos hitam polos lengan pendek, celana panjang batik coklat, jam antik yang melingkar di tangan kirinya, serta mengenakan kupluk (sejenis peci namun lebih secil). 
Sebuah tas berasal dari karung goni yang ia kenakan sambil mendorong sebuah dua batang  besi yang saling dihubungkan dengan mainan tadisional yang ia buat. Gerobak besi dengan dua roda kecil itulah ia pajangkan dagangannya berupa mainan berbentuk lingkaran yang dirangkai hingga panjang menyerupai rantai. Mainan yang ia buat dari bahan plastik sehingga mudah untuk dibentuk menjadi lingkaran.
Panjang mainan itu kurang lebih satu meter yang susun dengan dua warna yang berbeda (hujau tosca dan merah, serta kuning dan merah).  Bahkan satu rangkaian ada yang menggunakan tiga warna  yang berbeda (hijau tosca, kuning, dan merah), sehingga terkesan menarik. Baginya membuat mainan ini sangatlah mudah karena sejak masih sekolah ia suah terbiasa. Wajar jika mainan yang ia buat dengan tanganya sendiri tidak membutuhkan waktu yang lama.
“Yang lama itu cari bahannya. Kalian kalau nyari dipasar Tanah Abang pun tidak ada ujarnya dengan jelas.
“Mainan ini unik dan antik, gak ada yang jualan kayak gini di sini,” lanjutnya dengan menunjukan satu per satu hasil karya mainannya.
Dalam gerobaknya mininya, dengan tulisan “Jual karya seni, unik san antik, akarta langka, ase soris” juga tergantung 11 mainan unik yang mempunyai panjang yang berbeda-beda serta ukuran yang berbeda juga. Terdapat satu rangkaian mainan ini dengan ukuran yang besar, ada juga yang berukuran kecil namun rangkaiannya panjang, dan ada juga yang rangkaiannya panjang namun bentuknya kecil.
“Kalau yang besar ini harganya 30 ribu, yang panjang 25 ribu, yang kecil ini panjang juga saya jual 20 ribu. Nah kalau yang ketupat kecil ini saya jual 20 ribu empat buah,” jelasnya menuturkan harga setiap mainannya.
Tak hanya mainan yang ia jual. Terdapat foto hitam putih Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno beserta keluarganya. Poster Ir. Soekarno ini dia jual dengan harga 50 ribu per satu lembar foto. Poster yang dipajang dengan berukuran cukup besar itu mampu menarik perhatian setiap orang yang lewat. Tak segan-segan ada orang yang mengambil foto Sukiman saat berjualan.
Sukiman mengaku dirinya sangat mengagumi sosok Ir. Soekarno sejak dahulu. Ia juga mengaku mempunyai banyak koleksi foto-foto Ir. Soekarno dirumahnya.
“Tanpa Soekarno, Indonesia tidak akan merdeka!” ujarnya dengan semangat.
“Soekarno dijajah oleh generasi penerusnya dan dibunuh oleh Soeharto dengan caranya mereka! Berapa besar jasa Soekarno selama ini!” ucapnya degan penuh semangat yang menunjukan betapa kagumnya ia pada sosok Soekarno.
Sukiman yang kini berusia 83 tahun ini tak pernah kehilangan semangatnya. Walaupun di usia yang sudah tua, ia masih sehat dan dengan terus melangkahkan kakinya menjual dagangannya. Setiap Minggu pagi setelah solah subuh, Sukiman mulai melangkahkan kakinya menuju Jalan Sudirman. Sukiman yang sudah tinggal di Mampang, Jakarta Selatan sejak tahun 1958 hingga sekarang.
Sukiman yang mempunyai enam orang putri, sembilan cucu dan satu cicit ini merupakan asli orang Solo. Kini ia hnya inggal berdua dengan sang istri karena semua putrinya sudah berumah tangga dan hidup dengan keluarganya masing-masing. Walaupun hanya tinggal bersama dengan istri, Sukiman tak pernah merasa kesepian karena selalu ada anak atau cucunya yang main kerumahnya.
Jika Sukiman mempunyai diwaktu luang dan tidak ada anak atau cucu yang main kerumahnya, ia sempatkan untuk membuat mainan uniknya yang akan ia jual nantinya. Dari keahliannya membuat mainan unik dan tradisional ini, Sukiman mampu mendapatkan penghasilan lumayan.  
“Sehari kadang bisa dapat 300 sampai 400 ribu rupiah. Kalau laku semua biasanya bsa lebih,” ujarnya dengan gayanya nyang santai.
Walaupun menjual mainan bukanlah pekerjaan utama namun dengan penghasilan yang dia dapatkan mampu menghidupi ia beserta istri, serta mampu menyenangkan cucu serata cicitnya degan membelikan mereka mainan.
Minggu pagi ini adalah kali kedua Sukiman menjual maianan tradisionalnya yang unik setelah ia satu bulan tidak berjualan karena sakit. Diusia yang sudah tua, Sukiman memang sudah diwanti-wanti oleh istri beserta anaknya untuk tidak perlu bekerja. Namun karena semangatnya yang tinggi ia tetap bersikeras bekerja dengan menjual mainan tradisional yang unik ini.
“Sekalian olahraga jalan santai, bisa dapet duit ya kan. Hahahaha…” katanya sambil tertawa.
Setelah cukup lama berbincang-bincang denganya, akhirnya kami memutuskan untuk mengakhirinya. Sukiman kemudian melanjutkan perjalanannya menjual mainan ke sepanjang jalur car free day. Dari kejauhan tampak terlihat Sukiman menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ingin membeli mainannya. Masih banyak masyarakat yang menghargai dan tertarik dengan mainan tradisional asal Jawa yang ia buat.
Tak hanya membeli maianannya, juga banyak masyarakat yang meminta foto bersamanya. Terlihat juga ada beberapa sekelompok komunitas yang berfotoria bersama Sukiman. Semangatnya memang perlu menjadi contoh. Hari semakin siang, terlihat Sukiman berjalan pulang dengan menaiki bus metro mini sambil mengangkat gerobaknya masuk ke dalam bus. 



(Latihan penulisan Jurnalistik dan Sastra)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar